Molyneux's Problem
bisakah orang buta yang tiba-tiba melihat mengenali bentuk hanya dari visual
Bayangkan kita sedang berada di kamar yang gelap gulita. Kita meraba sebuah benda di atas meja. Bentuknya bulat sempurna, mulus tanpa sudut, dan terasa dingin di telapak tangan. Otak kita langsung tahu, itu adalah sebuah bola kaca. Tapi, mari kita putar skenarionya. Bagaimana jika kita terlahir buta, lalu entah bagaimana, hari ini kita tiba-tiba bisa melihat? Saat perban mata kita dibuka untuk pertama kalinya, dan kita melihat ada benda di atas meja, bisakah kita tahu itu bola kaca hanya dengan melihatnya, tanpa menyentuhnya?
Pertanyaan ini terdengar sangat sederhana. Tapi percaya atau tidak, teka-teki ini butuh waktu lebih dari 300 tahun untuk dijawab oleh sains. Semuanya bermula dari seorang pria bernama William Molyneux pada akhir abad ke-17. Molyneux bukan sekadar ilmuwan atau pemikir yang iseng mencari sensasi. Ia punya alasan personal yang sangat menyentuh. Istrinya perlahan kehilangan penglihatannya di tahun pertama pernikahan mereka. Berangkat dari rasa empati yang dalam pada dunia gelap sang istri, Molyneux menulis sepucuk surat kepada filsuf terkenal, John Locke. Surat itu memuat sebuah eksperimen pikiran yang kelak membuat sejarah sains dan psikologi bergejolak.
Dalam suratnya itu, ia merumuskan apa yang kini dikenal abadi sebagai Molyneux's Problem. Ia bertanya, jika seorang pria buta sejak lahir telah belajar membedakan bola dan kubus melalui rabaan yang presisi, lalu tiba-tiba penglihatannya pulih, bisakah ia menebak mana yang bola dan mana yang kubus murni menggunakan matanya? John Locke secara naluriah langsung setuju bahwa orang itu tidak akan bisa menebaknya. Tapi, para pemikir lain banyak yang protes.
Selama berabad-abad, pertanyaan ini membelah para ilmuwan menjadi dua kubu besar. Kubu pertama percaya bahwa konsep ruang, dimensi, dan bentuk sudah tertanam bawaan di otak kita (innate). Jadi menurut mereka, orang itu pasti langsung bisa menebak. Kubu kedua yakin bahwa kita harus belajar secara perlahan untuk menghubungkan indra peraba dan penglihatan melalui pengalaman fisik. Masalah terbesarnya adalah, pada masa itu, ini hanyalah debat teoritis tanpa ujung. Ilmu kedokteran belum mampu menyembuhkan kebutaan bawaan lahir. Jadi, pertanyaan Molyneux menggantung sunyi di udara. Ia menjadi sebuah misteri yang memaksa kita menunggu kemajuan teknologi medis untuk mengejarnya.
Mari kita melompat ke abad ke-21, dan berkenalan dengan Dr. Pawan Sinha. Ia adalah seorang ahli saraf dari MIT yang menjalankan sebuah inisiatif bernama Project Prakash di India. Proyek mulia ini bertujuan memberikan operasi katarak gratis bagi anak-anak dan remaja yang buta sejak lahir. Di tengah hiruk-pikuk rumah sakit inilah, momen bersejarah itu tiba. Dr. Sinha menyadari bahwa pasien-pasiennya adalah subjek hidup yang bisa menjawab surat Molyneux dari tiga abad silam.
Setelah operasi yang sukses, perban di mata para pasien perlahan dibuka. Bayangkan momen emosional tersebut. Terang cahaya akhirnya menembus mata yang selalu terkurung dalam gelap. Tapi muncul pertanyaan yang lebih krusial, apa yang sebenarnya otak mereka proses saat itu? Apakah dunia langsung terlihat masuk akal? Dr. Sinha kemudian menaruh balok dan bola di depan mereka. Ia tidak mengizinkan pasiennya menyentuh benda-benda tersebut. Ia lalu bertanya dengan hati-hati, "Tolong tunjukkan, mana yang berbentuk kotak?" Jantung dunia sains seolah berhenti berdebar. Jawaban dari pasien-pasien ini akan mengakhiri debat ratusan tahun, sekaligus membongkar rahasia terdalam tentang bagaimana otak manusia merakit realitas.
Dan inilah fakta ilmiahnya. Para pasien itu... gagal menebaknya. Mereka terlihat kebingungan. Mata mereka bisa menangkap ada dua benda dengan bentuk yang berbeda, tapi mereka sama sekali tidak tahu mana yang bola dan mana yang kubus hanya dari melihat. Otak mereka tidak memiliki jembatan antara bahasa rabaan dan bahasa visual.
Secara neurologis, penglihatan dan sentuhan ternyata diproses di bagian otak yang berbeda. Untuk menghubungkannya, kita membutuhkan apa yang disebut sebagai pemetaan lintas indra atau cross-modal mapping. Otak kita tidak lahir dengan "kamus terjemahan" universal. Mata hanya menangkap foton cahaya, bukan makna dari cahaya tersebut. Makna itu harus dirajut oleh pengalaman. Namun, ada kabar baik yang luar biasa dari temuan Dr. Sinha. Ketidakmampuan ini ternyata tidak permanen. Berkat plastisitas otak (neuroplasticity), hanya dalam hitungan hari atau minggu setelah pasien diizinkan menyentuh benda sambil melihatnya, otak mereka dengan cepat membangun sirkuit saraf yang baru. Mereka akhirnya menguasai kemampuan itu. Otak manusia terbukti sebagai mesin pembelajar yang sangat adaptif.
Kisah tentang Molyneux's Problem ini memberi kita pelajaran psikologis yang sangat rendah hati. Kita sering menganggap remeh hal-hal sehari-hari, seperti mengenali cangkir kopi atau membedakan bentuk awan di langit. Kita merasa dunia visual ini sudah bermakna dari sananya. Padahal, realitas yang kita nikmati saat ini adalah hasil kerja super keras dari otak kita yang terus menjahit miliaran serpihan informasi sejak kita masih bayi.
Melihat ternyata bukan sekadar perkara membuka mata. Melihat adalah sebuah proses belajar yang panjang. Menyadari hal ini rasanya membuat kita bisa sedikit lebih berempati pada cara orang lain memandang dunia. Jika mengaitkan bentuk fisik yang nyata saja butuh proses belajar yang tidak instan, apalagi memahami konsep yang abstrak dan rumit seperti keadilan, penderitaan, atau kebahagiaan? Setiap orang pada akhirnya merakit realitasnya sendiri-sendiri, dari gelap menuju terang, langkah demi langkah, rabaan demi rabaan. Dan mungkin, proses pencarian makna inilah yang membuat pengalaman menjadi manusia terasa sangat berharga.